Atambua, NTT- News. Com – Sekolah Menengah Atas Swasta (SMAS) Taruna Mandiri Fatubenao, Kabupaten Belu, memeriahkan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini dengan menampilkan keberagaman budaya Indonesia. Para tenaga pendidik mengenakan pakaian adat Nusantara dalam upacara yang digelar pada Sabtu (02/05/2026).
Bertindak sebagai pembina upacara, Kepala Sekolah SMAS Taruna Mandiri Fatubenao, Stefanus Mali, S.Pd., M.Pd., membacakan sambutan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti.
Menurutnya, Hari Pendidikan Nasional 2026 menjadi momen yang tepat untuk menyebarkan pesan-pesan Ki Hajar Dewantara serta menanamkan nilai-nilai pendidikan kepada siswa.
“Guru itu teladan, agen pembelajaran dan peradaban suatu bangsa, maka hardiknas bukan sekedar momentum tetapi harus dimaknai dan dijiwai dalam hidup dan semangat kita sebagai pendidik untuk kemajuan bangsa dari tapal batas NKRI- RDTL ,” ujarnya usai upacara Hardiknas di lapangan sekolah SMAS Taruna Mandiri.
Ia menambahkan, perkembangan dunia digital telah merambah hampir seluruh aspek kehidupan. Namun, masih banyak pengguna internet yang menerima informasi tanpa kemampuan memahami dan mengolahnya dengan baik.
Meski demikian, Kepsek Stefanus mengingatkan pentingnya kewaspadaan, terutama terhadap bahayanya internet yang membuat kecanduan dan lupa waktu.
“Disinilah letak peran orang tua dan guru dalam mendidik dan perlu adanya sosialisasi dan pendampingan terhadap siswa di sekolah” jelasnya.
Selain itu, Kepsek Stef juga menyoroti persoalan serius di dunia pendidikan, yakni praktik perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.
Ia menegaskan bahwa perundungan tidak boleh lagi dianggap sepele karena berdampak langsung pada kondisi mental, prestasi, hingga masa depan peserta didik.
“Hardiknas harus menjadi momentum evaluasi bersama. Kita masih sering mendengar kasus bullying di sekolah dan ini harus dihentikan. Tidak boleh ada pembiaran. Karena itu, tim bimbingan konseling (BK) terus melakukan pengawasan terhadap peserta didik,” Tegasnya.
Kasus perundungan kerap terjadi di dunia pendidikan. Tidak hanya siswa yang menjadi korban, tetapi juga guru yang dalam beberapa kasus justru dirundung oleh siswanya sendiri.
Berbagai faktor dapat memicu perilaku bullying, salah satunya pengaruh media sosial. Ia menyebut penggunaan gawai dan media sosial oleh anak-anak saat ini masih kurang terkontrol.
“Kami mengimbau peserta didik, khususnya di SMAS Taruna Mandiri Fatubenao agar tidak terpengaruh dan meniru perilaku bullying di media sosial. Jika ingin maju, maka hentikan bullying. Hormati guru dan orang tua. Tidak ada kompromi terhadap segala bentuk kekerasan di sekolah,”Tutupnya.
Peringatan Hardiknas 2026 diharapkan tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi momentum penguatan komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman.***
