Warga Fatukoa Menjerit Krisis Air di Musim Kemarau, Petani Siap Hibahkan Tanah Demi Embung Penyelamat Pertanian

Tokoh Pemuda Fatukoa, Imanuel Adonis

NTT-News.com, Kupang – Masyarakat Kelurahan Fatukoa, khususnya Dusun Sokon dan wilayah sekitarnya, kembali menyuarakan harapan besar kepada pemerintah untuk segera membangun embung skala sedang guna menopang sektor pertanian yang selama ini menjadi sumber utama kehidupan warga.

Krisis air saat musim kemarau dinilai menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan pertanian masyarakat.

Padahal, kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu sentra produksi pertanian terbesar di Kota Kupang yang menyuplai berbagai kebutuhan pangan ke pasar-pasar tradisional.

Baca Juga: Reses di Fatukoa, Marselinus Ngganggus Siap Perjuangkan Jalan Mollo–Oetun dan Pembangunan Embung

Tokoh pemuda Fatukoa, Imanuel Adonis mengatakan masyarakat bahkan siap menghibahkan tanah mereka demi mendukung pembangunan embung yang diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang bagi kebutuhan air pertanian warga.

“Selama musim kemarau masyarakat sangat kesulitan air untuk mengairi lahan pertanian. Karena itu masyarakat siap memberikan tanah untuk pembangunan embung demi mendukung pertanian di daerah kami,” ujarnya.

Ia menjelaskan, wilayah Fatukoa dan sekitarnya selama ini menjadi salah satu daerah penghasil sayur dan buah terbesar di Kota Kupang.

Berbagai komoditas hortikultura seperti sayur-sayuran, semangka, melon, bawang dan aneka buah lainnya dipasok dari kawasan tersebut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kota.

Baca Juga: Akses Jalan Bagi Warga di Perbatasan Rusak Parah, Warga Swadaya Perbaiki

Menurutnya, potensi pertanian yang besar itu belum didukung infrastruktur air yang memadai. Karena itu, ia berharap aspirasi masyarakat yang pernah disampaikan dalam agenda reses bersama anggota DPRD NTT, Marselinus Ngganggus dapat segera diwujudkan pemerintah.

Hal senada disampaikan tokoh masyarakat Fatukoa, Daniel Aluman. Ia menegaskan bahwa masyarakat sangat membutuhkan dukungan pemerintah dalam penyediaan sumber air baku agar sektor pertanian tetap bertahan dan terus berkembang.

“Sebagian besar sayur dan buah yang beredar di Kota Kupang berasal dari daerah kami. Ada semangka, melon, bawang, sayur-sayuran dan berbagai hasil pertanian lainnya. Tapi persoalan utama kami adalah air,” katanya.

Menanggapi aspirasi tersebut, Marselinus Ngganggus mengaku telah melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai terkait usulan pembangunan embung di wilayah Fatukoa.

Menurutnya, Balai Wilayah Sungai memberikan respons positif karena kawasan tersebut memang memiliki potensi pertanian besar namun mengalami keterbatasan sumber air saat musim kemarau.

“Pada prinsipnya sudah ada sinyal baik. Tinggal bagaimana usulan ini didorong bersama masyarakat dan Pemerintah Kota Kupang agar bisa segera dieksekusi,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya akan terus mengawal aspirasi masyarakat melalui koordinasi lintas instansi agar pembangunan embung yang diharapkan warga dapat segera terealisasi demi mendukung ketahanan pangan dan penguatan sektor pertanian di Kota Kupang. ***