SMAS Taruna Mandiri Fatubenao Lepas 61 Lulusan, Kepsek Stef Mali:Jujur,Disiplin Dan Cerdas Kunci Kesuksesan

Atambua, NTT- News.Com – SMAS Taruna Mandiri Fatubenao di Kecamatan Atambua Kota, Kabupaten Belu, resmi melepaskan 61 siswa kelas XII Tahun Pelajaran 2025/2026 dalam acara pengumuman kelulusan yang berlangsung pada Senin (04/05/2026) pagi di aula sekolah.

Kegiatan pengumuman kelulusan dihadiri oleh para siswa bersama orang tua/wali, Ketua Komite SMAS Taruna Mandiri Fatubenao, Paskalis Bere, perwakilan kepala dinas pendidikan dan kebudayaan NTT yang meliputi wilayah TTU,Malaka dan Belu, serta Ketua Yayasan Permata Ayah Romo Siprianus Tes Mau, Pr., suasana acara berlangsung penuh haru dan sukacita.

Terpantau media ini, dalam laporan resmi tertera bahwa sebanyak 61 peserta didik telah mengikuti seluruh proses ujian dan memenuhi kriteria kelulusan yang ditetapkan, sehingga semuanya dinyatakan lulus.

Ketua Komite SMAS Taruna Mandiri Fatubenao, Paskalis Bere, dalam sambutannya berharap agar dari 61 lulusan tersebut ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi sehingga menjadi sumber daya manusia yang handal dalam pelayanan masyarakat serta terus membawa nama baik sekolah.

Paskalis juga meminta orang tua tetap kompak dalam mendukung program sekolah sesuai kesepakatan bersama.

Pesan Kepsek Stefanus Mali: Jujur, Disiplin,Cerdas kunci menuju gerbang kesuksesan

Kepala sekolah SMAS Taruna Mandiri Fatubenao Stefanus Mali,S.Pd., M.Pd dalam sambutannya menggambarkan momen kelulusan sebagai hari yang telah lama dinantikan, yakni hari penentuan setelah tiga tahun perjuangan, di mana keringat, air mata, doa, dan kerja keras akhirnya terjawab.

Kepala sekolah (Kepsek) yang akrab disapa Stef ini mengenang kembali awal perjalanan para siswa pada Juli 2023, saat halaman sekolah dipenuhi siswa baru yang datang dari berbagai pelosok desa yang ada dikabupaten belu.

Kepsek Stef menegaskan bahwa pendidikan di sekolah tidak hanya sebatas mempelajari mata pelajaran seperti Matematika, Bahasa Indonesia, atau Fisika, tetapi juga belajar tentang kehidupan, seperti antre, menjaga kebersihan, meminta maaf, menerima kekalahan, serta bangkit dari kegagalan.

Stef menyampaikan apresiasi kepada siswa, orang tua, dan guru atas perjuangan bersama hingga mencapai titik perjuangan yang ada, namun ia juga menegaskan bahwa ijazah bukanlah tanda berakhirnya perjuangan, melainkan awal dari perjuangan yang sesungguhnya.

Menurut Stef, di luar lingkungan sekolah tidak ada lagi sistem pengawasan seperti di sekolah sebab para siswa akan dihadapkan pada pilihan hidup dan tanggung jawab masing-masing.

“Di luar pagar sekolah ini tidak ada lagi bel masuk pukul 07.15. Tidak ada lagi guru piket yang menjaga di pintu gerbang kalau kalian terlambat. Tidak ada lagi wali kelas yang membuat surat panggilan, tidak ada lagi guru wali yang pergi mencari di rumah kalau kalian tidak hadir. Yang ada hanya kalian, pilihan kalian dan tanggung jawab kalian atas setiap pilihan itu,” pesannya.

Sebagai bekal, Kepsek Stef lantas menitipkan tiga pesan kepada para siswa.

Pertama, kejujuran, yang menurutnya merupakan nilai yang sangat mahal dan tidak dapat digantikan.

“Kejujuran itu mahal anak-anakku. Sekali hilang sulit di dapat kembali. Karakter tidak bisa dibeli dengan apapun,” pesan Stef.

Pesan kedua yang disampaikan Stef adalah kedisiplinan baik dalam waktu maupun tempat.

“Kedisiplinan itu karakter yang harusnya tertanam dalam diri peserta didik dari tapal batas, nah untuk bisa disiplin seseorang perlu tahu diri dan tahu batas, Siapa diri saya? apa tugas saya? ”

Dalam pesannya yang ketiga, Stefanus menyebutkan kecerdasan adalah senjata dalam diri dalam menata kedisiplinan dan kejujuran. Ia meminta para siswa belajar untuk cerdas dalam berpikir tetapi jangan lupa prioritaskan karakter rendah hati, Ia mengibaratkan seperti ilmu padi yang makin berisi makin merunduk.

“Sepandai- pandai apapun kalian nanti dan setinggi apapun kalian terbang karena kecerdasan intelektual, tetaplah ingat tanah tempat kalian berpijak. Jangan jadi budak di tanah sendiri. Mungkin lima atau sepuluh tahun lagi ada yang jadi anggota dewan, dokter,tentara, polisi, guru, pengusaha atau pejabat. Tetapi tolong kalau pulang kampung jangan menunduk karena sombong. Menunduklah karena hormat pada orang tua dan tanah kelahiran. Orang hebat bukan yang lupa asal, tetapi yang pulang membawa berkat,” pesannya.

Pesan terakhirnya adalah meminta para siswa untuk selalu menjaga nama baik sebagai alumni yang membawa nama sekolah ke mana pun pergi serta menjauhi hal-hal negatif seperti narkoba dan minuman keras.

“Mulai hari ini kalian menyandang nama baru, yakni alumni SMAS Taruna Mandiri Fatubenao . Kemana pun kalian pergi, nama sekolah ini ikut di punggung kalian. Kalau kalian berbuat baik, kami di sini ikut bangga. Kalau kalian tersandung kami disini ikut berduka. Maka jagalah diri. Jauhilah narkoba, minuman keras, dan pergaulan yang merusak. Kalian adalah anak-anak yang dididik dengan doa,” tekan Stefanus.

Kepada orang tua, Kepsek Stefanus Mali menyampaikan terima kasih atas kepercayaan selama tiga tahun serta menegaskan bahwa meskipun tugas sekolah secara formal telah selesai, peran orang tua dalam membimbing anak berlangsung seumur hidup. Ia juga mengingatkan pentingnya kehadiran orang tua sebagai tempat pulang bagi anak di tengah kerasnya dunia luar.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan selama proses pendidikan, termasuk jika terdapat teguran atau hukuman yang dirasakan berat, yang menurutnya dilakukan semata-mata karena kepedulian terhadap masa depan siswa.

Menutup sambutannya,
Ia juga menegaskan bahwa kelulusan 61 dari 61 siswa menjadi bukti bahwa kebersamaan dan kesatuan hati mampu menghasilkan keberhasilan bersama.

Sebagai penutup, Kepsek Stef berpesan agar para lulusan terus melangkah meraih masa depan tanpa melupakan akar di Fatubenao. Ia berharap para alumni dapat kembali membawa cerita keberhasilan dan berkat, serta menjadikan sekolah sebagai tempat pulang kapan pun dibutuhkan.***