Pemerintah Desa Mata Air Sunat Upah Buruh

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

NTT-NEWS.COM, Oelamasi – Pemerintah Desa Mata Air Kecamatan Kupang Tengah melakukan pemotongan (sunat) upah buruh yang mengerjakan jalan rabat beton sepanjang 200-an meter di Dusun IV, Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang.

Salah satu pekerja, mengaku bahwa sebelum pengerjaan berjalan, ia bersama kelompok kerjanya diberitahu akan mendapat upah disesuaikan dengan volume kerja sepanjang 200-an meter dibayar Rp 5,6 juta.

Namun, setelah pekerjaan tersebut selesai ternyata pembayaran tidak sesuai dengan kesepakatan awal. “Yang dibayarkan hanya Rp 4,9 juta, dan diinformasikan, (pemdes), melalui Ketua Tim Pelaksana Kegiatan, (TPK), Yandri Tuan dengan anggotanya Ari Nasa dan Matheos Henuk, bahwa kelebihan keuangan hasil kerja sebanyak Rp 800 ribu diperuntukkan pembayaran pajak daerah,” tutur pekerja bernama Nedy Dethan itu.

“Pasti ada yang sonde beres, karena setelah dong bayar uang Rp 4,9 Juta,. Dong bilang ppn/pph, itu aturan. Baru setelah dia, kasih uang Rp 300 ribu, dia bilang karena katong kerja cepat, rajin, sehingga katong diberi bonus,” aku Nedi Dethan ketika berbincang dengan wartawan.

Hal senada diceritahkan Semi Taka, bahwa merasa amat heran, dan baru pernah mendengar adanya uang tenaga buruh dana desa dipotong pajak.

“Beta heran ada lai aturan katong pung uang kerja pake potong pajak. Beta kira hanya semen dong. Padahal itu hari Yandri Tuan mengaku di rumah pak RT bilang supaya masyarakat tahu untuk uang dana desa, katong sonde ame satu peser pun,” kutip Dalian Ketua TPK.

Ditemui terpisah, Nuel Modok buruh pengerjaan saluran areal persawahan mengaku mengalami nasib lebih naas karena, sejak Natal dan Tahun Baru hingga kini dia bersama, Tin Dethan, Jhon Dethan dan beberapa pekerja lain hingga awal tahun Januari 2016 ini belum juga mendapatkam hak mereka sekitar Rp 2-3 jutaan.

“Awalnya katong, sepakat petani tanggung galian (saluran sepanjang 200 meter). bilangnya nanti bayar HOK, tapi ternyata sekarang sonde dibayar. Kerja ini pun terkesan sangat tertutup,” kata Nuel Modok. (George)