NTT-News.com, Borong – Di tengah sunyinya pelosok Elar, Kabupaten Manggarai Timur, seorang bocah perempuan bernama NTL, alias Tasia (11) harus menanggung beban hidup yang tak seharusnya dipikul anak seusianya.
Yatim piatu, tubuhnya lemah digerogoti penyakit mematikan, TB Paru dan HIV/AIDS stadium 3, namun ia tetap berjuang bertahan dalam keterbatasan.
Kisah pilu Tasia mencuat ke publik setelah sebuah video beredar di media sosial, memperlihatkan kondisi hidupnya yang memprihatinkan.
Video itu akhirnya sampai ke perhatian Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, yang langsung tersentuh dan bereaksi cepat.
Baca Juga: Gubernur NTT Melakukan Kunjungan Kerja ke Kabupaten Manggarai Barat
Tanpa menunggu lama, Gubernur menginstruksikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT untuk segera turun tangan. Ia menegaskan bahwa negara tidak boleh abai terhadap penderitaan anak seperti Tasia.
Melalui Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo, perintah itu langsung diterjemahkan menjadi aksi nyata. Tim segera diterjunkan ke lokasi untuk melihat langsung kondisi Tasia yang hidup bersama neneknya dalam kesederhanaan yang memilukan.
“Pesan Bapak Gubernur sangat jelas, kita harus hadir. Tidak boleh ada anak yang menderita sendirian tanpa perhatian negara,” ungkap Ambrosius dengan nada tegas.
Di balik perjuangannya melawan penyakit, Tasia masih berusaha menjalani kehidupan seperti anak-anak lainnya. Ia tetap pergi ke sekolah, meski tubuhnya kerap tak mampu bertahan lama. Saat tim tiba di kediamannya, Tasia sudah kembali ke rumah, terbaring lemah di sisi sang nenek, satu-satunya keluarga yang tersisa.
Kondisi ekonomi yang serba terbatas semakin memperberat langkah pengobatan. Meski biaya medis ditanggung BPJS, kenyataan pahit tetap menghantui, biaya transportasi untuk kontrol rutin ke RSUD Ben Mboi Ruteng menjadi beban yang hampir tak tertanggungkan.
Baca Juga: Nafsiah dan Ben Mboi, Dua Sosok yang Menginspirasi Melki Laka Lena untuk Bangun RSUP di NTT
Jarak yang jauh, ongkos yang mahal, dan kondisi fisik yang lemah membuat setiap perjalanan pengobatan menjadi perjuangan hidup dan mati bagi Tasia.
Menanggapi laporan lapangan, pemerintah melalui Dinas Pendidikan tidak tinggal diam. Penggalangan donasi segera digerakkan di kalangan sekolah, guru, dan tenaga pendidikan di Manggarai Timur sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan.
Tak hanya itu, pemerintah juga mulai menyiapkan rumah singgah di sekitar fasilitas kesehatan agar Tasia tidak lagi harus berjuang melawan jarak setiap kali menjalani pengobatan.
Langkah ini diharapkan dapat meringankan beban keluarga sekaligus memastikan Tasia mendapatkan perawatan yang layak dan berkelanjutan.
Baca Juga: Anggur Etaria Putra CN Sutar, Representasi Generasi Baru Politik Manggarai Barat
Di balik segala upaya tersebut, satu hal yang tak bisa disembunyikan, kisah Tasia adalah potret getir tentang anak kecil yang dipaksa dewasa oleh keadaan. Ia berjuang melawan penyakit, kehilangan, dan kemiskinan, namun tetap bertahan, meski dunia terasa begitu berat di pundaknya yang rapuh.
Kini, harapan itu perlahan muncul. Negara mulai hadir. Namun waktu terus berjalan, dan bagi Tasia, setiap hari adalah pertaruhan hidup. ***
