NTT-News.com, Kupang — Pada tahun 1987, bertepatan dengan bulan suci Ramadan, seorang musafir asal Pakistan bernama Haji Malik Mahboob Ahmad tiba di Kota Kupang. Kedatangannya saat itu hanyalah persinggahan, karena beliau berniat melanjutkan perjalanan menuju Australia.
Namun takdir Allah membawanya mengalami sebuah kisah spiritual yang hingga kini masih dikenang banyak warga Kupang.Di Kupang, Haji Malik pertama kali bertemu dengan Bapak Usman Siddin di sebuah masjid. Pertemuan itu menjadi awal hubungan yang sangat dekat, bahkan Haji Malik menganggap Pak Usman seperti ayahnya sendiri.
Saat itu, Haji Malik tinggal di Wisma Rahmat, sebuah penginapan sederhana milik seorang Muslim yang dikenal ramah, menghargai musafir, dan tidak berorientasi komersial.Ketertarikan Haji Malik pada Wisma Rahmat bukan hanya karena kesederhanaannya, tetapi juga karena wisma tersebut memiliki sejarah dakwah Islam.
Konon, seorang ulama dari Hindustan, Maulana Rahmat Ali, pernah singgah dan menyebarkan ajaran Islam di tempat itu.Melihat kondisi Haji Malik yang tengah menjalankan ibadah puasa, Pak Usman kemudian mengajak beliau pindah dan tinggal di rumahnya. Tujuannya agar ibadah dan puasa Haji Malik tidak terganggu, sekaligus agar Pak Usman dapat melayani tamunya dengan lebih baik.
Meski rumah Pak Usman sederhana dan dihuni banyak anak, satu kamar khusus disediakan untuk Haji Malik.Tak berselang lama, kabar tentang keberadaan seorang musafir dari Pakistan yang tinggal di rumah Pak Usman menyebar ke seluruh penjuru Kupang. Sejak saat itu, suasana rumah Pak Usman berubah.
Banyak tamu datang silih berganti—mulai dari masyarakat biasa, nelayan, pengusaha, hingga pejabat—untuk memohon doa, meminta nasihat, berkonsultasi tentang usaha, kesehatan, serta pengobatan herbal dan terapi spiritual.Semua dilakukan tanpa dipungut biaya apa pun.
Alhamdulillah, banyak di antara mereka yang merasakan perubahan positif dalam hidupnya. Rezeki pun mengalir ke rumah Pak Usman dalam berbagai bentuk, sebagai ungkapan syukur dan terima kasih. Bahkan Pak Usman kerap menggunakan kelebihan rezeki itu untuk kegiatan sosial, membantu warga yang kesusahan, termasuk beberapa warga asing yang mengalami overstay hingga dibelikan tiket kepulangan.
Salah satu kisah yang dikenang adalah pengalaman almarhum Bapak Lakatonde, seorang nelayan yang hampir setahun tidak memperoleh hasil tangkapan dan terlilit hutang. Setelah berkonsultasi melalui Pak Usman sebagai penerjemah—karena Haji Malik belum fasih berbahasa Indonesia—beliau memberikan nasihat berupa waktu melaut, hari dan jam keberangkatan, serta amalan ibadah yang perlu dilakukan.
Atas izin Allah SWT, usaha Bapak Lakatonde kembali membuahkan hasil. Keesokan harinya, ia datang bersama keluarganya membawa oleh-oleh sebagai ungkapan syukur.Namun Haji Malik selalu berpesan agar semua itu tidak disalahartikan dan tidak menjerumuskan pada kesyirikan.
Beliau menegaskan bahwa dirinya hanyalah hamba Allah yang lemah, dan semua keberhasilan semata-mata berasal dari Allah SWT melalui doa dan ikhtiar sesuai syariat.Hampir seluruh warga Kupang kala itu mengetahui kisah tersebut. Peristiwa itu menjadi bagian dari sejarah spiritual yang dialami langsung oleh Pak Usman dan masyarakat sekitar.
Masalah kemudian muncul ketika visa Haji Malik tidak dapat diperpanjang. Banyak warga, bahkan pejabat daerah, datang ke kantor imigrasi untuk menjadi penjamin agar beliau dapat tetap tinggal di Kupang. Namun sesuai prosedur, Haji Malik akhirnya harus dipulangkan. Atas permohonan banyak pihak, termasuk Gubernur NTT saat itu Ben Mboi, beliau diperlakukan secara terhormat dan diberangkatkan dari Pelabuhan Tenau menuju Jakarta dengan Kapal Kalimutu, disertai fasilitas khusus.
Bertahun-tahun kemudian, Haji Malik menetap di Jakarta dan dikenal sebagai pengusaha permadani rajutan tangan bernilai spiritual tinggi, dibuat dari bahan halal dan thayyib tanpa bahan kimia. Beliau memiliki izin dan ijazah dari para guru rohaninya untuk melayani permadani kelas tinggi bagi para pemimpin dunia.
Alhamdulillah, beliau tercatat pernah melayani enam Presiden Republik Indonesia dari masa ke masa, termasuk keluarga almarhumah Ibu Ainun Habibie, Presiden Megawati Soekarnoputri, Presiden SBY, hingga Joko Widodo. Banyak kisah menarik yang menyertai setiap permadani yang dikirimkan, yang kemudian diyakini menjadi simbol doa dan harapan.
Dalam beberapa kesempatan, Haji Malik selalu menegaskan bahwa dirinya tidak ingin terlibat dalam politik praktis. Ketika kembali berkunjung ke Kupang beberapa waktu lalu, beliau memilih berdoa secara pribadi tanpa menghadiri acara politik apa pun, termasuk saat deklarasi tokoh nasional. Salah satu bentuk doa beliau adalah mengirimkan permadani dengan niat ikhlas.
Hingga kini, Haji Malik Mahboob Ahmad tetap menjalin silaturahmi dengan keluarga Pak Usman dan masyarakat Kupang. Banyak warga menjadi saksi bahwa setelah kepergian beliau, keberkahan tetap dirasakan dan tidak ada yang berkurang.
Beliau juga kerap menyampaikan pesan agar para pemimpin bangsa, baik pusat maupun daerah, tidak meremehkan orang-orang yang memiliki energi positif, ketulusan, dan keberkahan, karena doa yang tulus dapat menjadi penopang keselamatan dunia dan akhirat.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Ali Imran ayat 26, bahwa kekuasaan, kemuliaan, dan kehinaan semuanya berada dalam genggaman-Nya.Wallahu a‘lam bish-shawab.وبالله التوفيق والهداية، والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته








