KUPANG, Ntt-news.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi NTT untuk memperkuat pembangunan ekonomi daerah melalui pengembangan sektor-sektor produktif berbasis potensi lokal.
Hal itu disampaikan Gubernur NTT Melki Laka Lena, dalam pidato pembangunan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Melki Laka Lena mengatakan, pembangunan ekonomi NTT diarahkan pada penguatan sektor pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan, UMKM, ekonomi kreatif, hingga hilirisasi produk unggulan daerah. “Dari ladang dan laut ke pasar: efisien, modern, dan aman,” menjadi salah satu arah pembangunan yang ditekankan pemerintah daerah. Kebijakan tersebut diarahkan agar hasil produksi masyarakat tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah dan memiliki daya saing.
Pertanian, kata Gubernur, tetap menjadi salah satu tulang punggung perekonomian NTT. Sektor tersebut menyerap sekitar 2,3 juta tenaga kerja dan memberikan kontribusi sebesar 28,9 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada 2024.
Dengan potensi lahan kering mencapai sekitar 1,8 juta hektare, NTT dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu lumbung pangan di kawasan timur Indonesia.
Pada 2025, Nilai Tukar Petani (NTP) NTT tercatat 101,4, sementara Indeks Ketahanan Pangan mencapai 76,2 dan Skor Pola Pangan Harapan sebesar 79,3.
Penguatan sektor pertanian tersebut didukung 36.678 kelompok tani, sekitar 70 persen di antaranya masih berada pada kelas pemula. Selain itu, terdapat 3.167 penyuluh yang melayani 3.442 desa dan kelurahan serta 11.940 unit alat dan mesin pertanian.
Capaian tersebut juga mengantarkan NTT memperoleh PIN Emas Swasembada Pangan Nasional dari Kementerian Pertanian pada 2025.
Memasuki 2026, pemerintah menargetkan pencetakan sawah rakyat seluas 4.634,79 hektare sebagai bagian dari upaya meningkatkan produksi pangan sekaligus kesejahteraan petani.
Peternakan dan Perikanan Jadi Kekuatan Ekonomi
Selain pertanian, sektor peternakan juga menjadi kekuatan ekonomi NTT. Populasi sapi meningkat dari sekitar 582 ribu ekor pada 2023 menjadi lebih dari 778 ribu ekor pada 2026.
Hingga 22 Juli 2026, lebih dari 43 ribu ekor sapi telah dikirim ke luar NTT.
Pertumbuhan juga terjadi pada komoditas peternakan lainnya. Populasi kerbau meningkat dari sekitar 66 ribu menjadi hampir 94 ribu ekor, kambing dari 370 ribu menjadi lebih dari 480 ribu ekor, dan ayam pedaging dari 16,32 juta menjadi 21,24 juta ekor. Sementara populasi babi kembali mencapai sekitar 1,09 juta ekor pada 2026.
Pemerintah juga memperkuat perlindungan kesehatan hewan melalui pengendalian African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika. Kesiapsiagaan dilakukan di 22 kabupaten/kota dengan dukungan vaksin, desinfektan, alat uji cepat dan pendampingan biosekuriti.
NTT juga mempertahankan status bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dengan nol kasus.
Dalam penanganan rabies, pemerintah mencatat penurunan kasus gigitan sebesar 25 persen dalam dua bulan pertama. Jumlah kematian juga turun dari 46 jiwa pada 2024 menjadi 30 jiwa pada 2025 dan delapan jiwa hingga pertengahan 2026.
Di sektor kelautan dan perikanan, produksi perikanan tangkap meningkat dari sekitar 87 ribu ton pada 2024 menjadi hampir 96 ribu ton pada 2025.
Peningkatan tersebut didukung kebijakan Penangkapan Ikan Terukur, pengaturan kuota dan zona, penguatan rantai dingin serta penyediaan lebih dari 2.000 unit coolbox pada 2026.
Rumput laut juga tetap menjadi salah satu komoditas unggulan NTT. Produksinya mencapai 1.248.126 ton pada 2025, dengan pengembangan budidaya, penyediaan bibit berkualitas dan penguatan industri pengolahan di sejumlah daerah.
Dorong Hilirisasi dan Produk Lokal
Gubernur menegaskan, pengembangan ekonomi lokal harus berjalan seiring dengan kelestarian lingkungan.
Dari sekitar 1,726 juta hektare kawasan hutan NTT, lebih dari 82 ribu hektare telah dikelola melalui program Perhutanan Sosial yang melibatkan 377 Kelompok Tani Hutan.
Pemerintah juga melakukan rehabilitasi hutan dan lahan seluas 1.575 hektare serta membentuk 33 Kelompok Masyarakat Peduli Mata Air.
Penguatan ekonomi masyarakat juga dilakukan melalui pengembangan hasil hutan bukan kayu, seperti madu, bambu, tanaman obat dan buah lokal melalui pendekatan One Village One Product (OVOP).
Di sektor UMKM, hingga 2026 sebanyak 684 pelaku usaha telah memperoleh Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikat halal dan PIRT. Program tersebut disertai peningkatan kapasitas produksi, manajemen, pemasaran, pengemasan, pemanfaatan teknologi digital dan akses pasar.
Kelembagaan ekonomi masyarakat desa juga diperkuat melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Hingga April 2026, telah terbentuk 3.442 KDKMP atau 100 persen dari seluruh desa dan kelurahan di 22 kabupaten/kota. Koperasi tersebut diarahkan menjadi wadah untuk menghimpun, mengelola, memasarkan dan mendistribusikan hasil produksi masyarakat.
Sementara itu, realisasi investasi di NTT meningkat dari Rp4,22 triliun pada 2024 menjadi Rp4,86 triliun pada 2025. Hingga semester I 2026, realisasi investasi telah mencapai Rp2,63 triliun.
Investasi diarahkan terutama pada komoditas unggulan seperti garam, rumput laut dan sapi potong untuk mendorong hilirisasi, membuka lapangan kerja dan memperluas pasar.
Milenial dan Perempuan Jadi Penggerak Ekonomi
Selain sektor produksi, Gubernur menempatkan generasi muda dan perempuan sebagai bagian penting dalam pembangunan ekonomi daerah.
Melalui Dasa Cita Kedua, “Milenial dan Perempuan, Motor Kreativitas Lokal”, pemerintah mendorong terbentuknya sumber daya manusia NTT yang kreatif, inovatif, produktif dan berdaya saing.
Pengembangan ekonomi kreatif diarahkan pada pemanfaatan potensi lokal dan kekayaan budaya melalui 16 subsektor, dengan tiga subsektor unggulan yakni kriya, kuliner dan fesyen.
Hingga 2025, tercatat 10.820 pelaku ekonomi kreatif di NTT, terdiri atas 7.781 pelaku kriya, 2.385 pelaku kuliner dan 305 pelaku fesyen.
Pemerintah juga memperkuat perlindungan produk lokal melalui fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Sebanyak 263 produk telah memperoleh fasilitasi HKI hingga 2024, dilanjutkan dengan fasilitasi 20 produk pada 2025 serta target 100 produk dan layanan konsultasi HKI bagi 20 pelaku usaha pada 2026.
Peningkatan kapasitas generasi muda dilakukan melalui pelatihan kewirausahaan, program inkubator bisnis, pengembangan keterampilan kreatif dan pemberian stimulus modal usaha.
Pada 2024, bantuan modal usaha POKIR mencapai Rp5,97 miliar bagi 597 kelompok wirausaha muda. Sementara program Inkubator Bisnis dialokasikan Rp3,1 miliar pada 2025 dan meningkat menjadi Rp3,8 miliar pada 2026 dengan sasaran 450 penerima manfaat di 11 kabupaten/kota.
Pemberdayaan perempuan juga terus diperkuat melalui program ekonomi produktif, perlindungan perempuan dan pengarusutamaan gender.
Gubernur menegaskan, pembangunan ekonomi NTT tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam. Sumber daya manusia harus mampu mengolah potensi tersebut menjadi inovasi, produk bernilai tambah dan peluang ekonomi baru.
Karena itu, pembangunan NTT diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi dari hulu hingga hilir, memperkuat pasar, meningkatkan investasi dan membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat, terutama generasi muda dan perempuan.
Dengan arah tersebut, pemerintah berharap potensi pertanian, peternakan, kelautan, kehutanan, UMKM dan ekonomi kreatif dapat menjadi kekuatan utama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTT.***
